Persiapan ganda putra Malaysia menuju Kejuaraan Dunia 2026 mendapat perhatian setelah eksperimen pasangan mereka menghadapi kendala. Strategi bongkar pasangan dilakukan untuk memberikan variasi sekaligus menguji kemampuan setiap pemain. Namun, eksperimen tersebut mendapat ujian ketika berhadapan dengan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin. Duet Indonesia itu kembali menunjukkan kualitasnya setelah dipasangkan bersama pada musim 2026.
Rexy Mainaky memiliki alasan tersendiri dalam melakukan perubahan pasangan pada sesi latihan dan beberapa turnamen. Direktur kepelatihan ganda Malaysia tersebut ingin pemain mampu beradaptasi dengan berbagai karakter permainan. Strategi itu juga memberikan kesempatan bagi tim pelatih untuk melihat kombinasi terbaik. Hasil pertandingan bukan menjadi satu-satunya ukuran dalam eksperimen tersebut.
Leo/Daniel sendiri sedang menunjukkan perkembangan positif setelah kembali bermain bersama. Mereka sukses menjuarai Thailand Open 2026 setelah hampir dua tahun menjalani perjalanan dengan pasangan berbeda. Leo/Daniel kemudian melanjutkan performa kuat dengan mencapai final Taipei Open 2026. Hasil tersebut memperlihatkan chemistry keduanya kembali terbentuk menjelang turnamen besar.
Rexy menilai eksperimen tetap memberikan manfaat meskipun hasilnya tidak selalu sesuai harapan. Setiap pertandingan memberikan informasi penting mengenai kemampuan dan kelemahan pemain Malaysia. Evaluasi tersebut dibutuhkan menjelang Kejuaraan Dunia 2026 yang menghadirkan persaingan lebih berat. Malaysia memiliki beberapa pasangan berkualitas yang diharapkan mampu bersaing memperebutkan medali.
Kejuaraan Dunia 2026 menjadi salah satu target penting bagi sektor ganda putra Malaysia. Rexy memiliki pengalaman membawa Aaron Chia dan Soh Wooi Yik menjadi juara dunia pada 2022. Kini, ia kembali berusaha mempersiapkan pemain dengan berbagai pendekatan sebelum menghadapi persaingan terbesar. Gangguan dari Leo/Daniel justru bisa menjadi bahan evaluasi penting bagi Malaysia sebelum Kejuaraan Dunia.