Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menunjukkan penguatan setelah menembus level 6.400. Pergerakan ini menjadi sinyal positif bagi pasar saham Indonesia. Sebelumnya, IHSG sempat mendekati level tersebut pada akhir Juli. Penguatan didukung sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham konglomerasi.
Namun, kenaikan IHSG masih berlangsung di tengah tekanan dana asing. Data hingga akhir Juli menunjukkan investor asing mencatat net sell Rp80,97 triliun. OJK menyebut arus modal asing dipengaruhi risiko geopolitik dan kebijakan suku bunga global. Preferensi investor terhadap aset emerging market juga menjadi faktor penting.
Di sisi lain, minat asing sempat menunjukkan tanda pemulihan pada periode sebelumnya. Investor asing bahkan pernah mencatat net buy sekitar Rp26,74 triliun dalam sepekan. Saham BRPT, BBNI, ADRO, INDF, dan beberapa emiten lain menjadi incaran. Kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih melihat peluang di pasar Indonesia.
Reformasi pasar modal menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Pemerintah bersama OJK dan Bursa Efek Indonesia terus memperkuat transparansi pasar. Pemerintah juga mendorong peningkatan integritas serta kualitas informasi pasar modal. MSCI sebelumnya mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market.
Dengan demikian, penguatan IHSG ke atas 6.400 menjadi momentum penting bagi pasar saham. Namun, investor tetap perlu mencermati arus asing dan kondisi rupiah. Keberlanjutan reformasi pasar modal juga menjadi kunci pemulihan kepercayaan investor. Jika sentimen membaik, IHSG berpeluang melanjutkan tren penguatannya.