Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada sesi pertama perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Tekanan jual yang terjadi di sejumlah saham big caps membuat IHSG turun 0,91 persen ke level 6.149.
Pelemahan pasar saham Indonesia pada sesi I hari ini juga menyeret sejumlah saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Beberapa emiten besar seperti AMRT, ASII, hingga MBMA masuk daftar top losers.
IHSG Melemah Sejak Awal Perdagangan
Pada awal perdagangan, IHSG sebenarnya sempat bergerak fluktuatif. Namun tekanan jual yang terus meningkat membuat indeks akhirnya bergerak di zona merah hingga penutupan sesi pertama.
Sentimen global masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan pergerakan suku bunga membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi profit taking.
Selain itu, pelemahan harga komoditas juga ikut memberikan tekanan terhadap saham-saham berbasis energi dan pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saham LQ45 Banyak Terkoreksi
Sejumlah saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 mengalami penurunan cukup dalam pada sesi I perdagangan hari ini.
Berikut daftar top losers LQ45 Selasa (26/5):
- AMRT turun signifikan
- ASII melemah tajam
- MBMA terkoreksi dalam
- INCO ikut tertekan
- MDKA bergerak negatif
Tekanan pada saham-saham tersebut membuat indeks LQ45 turut bergerak melemah mengikuti arah IHSG.
Saham AMRT Jadi Sorotan
Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi salah satu saham dengan pelemahan terbesar di indeks LQ45.
Aksi jual investor terlihat cukup tinggi pada saham sektor ritel tersebut. Meski fundamental perusahaan masih dinilai solid, pelaku pasar tampaknya memilih mengamankan keuntungan setelah penguatan dalam beberapa waktu terakhir.
Pergerakan saham AMRT juga dipengaruhi sentimen konsumsi domestik dan kondisi daya beli masyarakat.
ASII dan MBMA Ikut Tertekan
Sementara itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) juga masuk daftar top losers pada sesi pertama perdagangan.
Pelemahan saham ASII terjadi di tengah tekanan pada sektor otomotif dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi penjualan kendaraan.
Di sisi lain, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turut mengalami koreksi cukup dalam seiring pelemahan saham sektor komoditas dan bahan baku.
Investor Asing Masih Cermati Sentimen Global
Pelaku pasar saat ini masih mencermati berbagai sentimen eksternal, terutama terkait kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Selain itu, perkembangan ekonomi China dan harga komoditas dunia juga menjadi perhatian utama investor asing di pasar Asia, termasuk Indonesia.
Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG cenderung volatile dalam beberapa pekan terakhir.
Sektor Teknologi dan Energi Ikut Tertekan
Selain saham konsumer dan otomotif, sektor teknologi serta energi juga mengalami tekanan pada perdagangan hari ini.
Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar bergerak melemah mengikuti sentimen negatif di pasar global. Sementara saham energi tertekan akibat fluktuasi harga minyak dan batu bara dunia.
Tekanan lintas sektor ini membuat ruang penguatan IHSG menjadi terbatas pada sesi pertama.
Peluang Rebound Masih Terbuka
Meski IHSG ditutup melemah di sesi I, analis menilai peluang rebound masih terbuka jika sentimen global mulai membaik.
Investor saat ini disarankan tetap selektif dalam memilih saham, terutama pada emiten dengan fundamental kuat dan kinerja keuangan stabil.
Pergerakan pasar pada sesi kedua juga akan dipengaruhi arus dana asing serta perkembangan bursa regional Asia.
Penutup
IHSG turun 0,91 persen ke level 6.149 pada sesi I perdagangan Selasa (26/5) akibat tekanan jual di berbagai sektor. Saham-saham unggulan seperti AMRT, ASII, dan MBMA menjadi top losers di indeks LQ45.