Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini berada pada level yang relatif murah atau terdiskon dibandingkan bursa saham di kawasan Asia.
Penilaian ini muncul setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam dari level tertingginya di awal 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa kondisi ini justru bisa menjadi peluang bagi investor untuk masuk ke pasar.
Data Valuasi IHSG Terkini
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 12 Mei 2026:
- Price to Earnings Ratio (PER): sekitar 14,98 – 16 kali
- Price to Book Value (PBV): sekitar 1,90 kali
Angka tersebut menunjukkan bahwa valuasi saham Indonesia sudah berada di bawah rata-rata bursa regional, sehingga dinilai lebih kompetitif.
Selain itu, IHSG juga telah terkoreksi sekitar 22% dari level tertinggi sebelumnya, membuat harga saham secara umum menjadi lebih rendah dibandingkan awal tahun.
Saatnya Investor Masuk ke Pasar Saham?
Menurut OJK, kondisi valuasi yang murah ini dapat menjadi momentum menarik bagi investor jangka panjang. Namun, keputusan masuk pasar tetap perlu mempertimbangkan beberapa faktor penting.
Faktor pendukung:
- Valuasi IHSG sudah “diskon”
- Koreksi pasar membuka peluang akumulasi
- Fundamental beberapa sektor masih solid
- Potensi pemulihan ekonomi domestik
Faktor risiko:
- Ketidakpastian global (suku bunga, geopolitik)
- Volatilitas pasar jangka pendek
- Tekanan aliran dana asing
- Sentimen indeks global seperti MSCI
Dampak Koreksi IHSG terhadap Investor
Koreksi pasar yang terjadi memang menekan indeks, tetapi juga menciptakan peluang bagi investor yang memiliki strategi jangka panjang.
OJK menegaskan bahwa aktivitas pasar tetap normal dan tidak terjadi panic selling yang berlebihan, sehingga kondisi ini masih dianggap wajar dalam siklus pasar.
Strategi Investor di Tengah Valuasi Murah
Bagi investor ritel, kondisi seperti ini biasanya dimanfaatkan untuk:
- Averaging down pada saham fundamental bagus
- Akumulasi bertahap (buy on weakness)
- Fokus pada sektor defensif dan blue chip
- Diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko
Kesimpulan
Pernyataan OJK bahwa valuasi saham Indonesia sudah murah menunjukkan bahwa pasar saat ini sedang berada dalam fase koreksi yang membuka peluang investasi.
Namun, “murah” tidak otomatis berarti langsung harus beli besar-besaran. Investor tetap perlu memperhatikan risiko global, sentimen pasar, dan kualitas emiten sebelum mengambil keputusan.
Dengan strategi yang tepat, kondisi ini bisa menjadi momentum penting untuk akumulasi saham jangka panjang di pasar modal Indonesia.