PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkapkan banyak emiten mulai memilih menerbitkan surat utang dengan tenor lebih pendek di tengah kenaikan yield obligasi domestik. Strategi tersebut dilakukan untuk menekan biaya pendanaan sekaligus mengurangi risiko bunga yang masih tinggi di pasar keuangan.
Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo, menjelaskan kenaikan yield dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari tingginya suku bunga, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga besarnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, persaingan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga membuat biaya penerbitan obligasi korporasi semakin mahal.
Menurut Pefindo, kondisi tersebut mendorong sebagian emiten menyesuaikan strategi pendanaan. Daripada menerbitkan obligasi berjangka panjang dengan kupon lebih tinggi, perusahaan memilih tenor pendek agar beban bunga tetap terkendali. Langkah ini dinilai lebih fleksibel sambil menunggu kondisi pasar membaik dan yield kembali stabil.
Meski menghadapi tantangan, Pefindo tetap memperkirakan penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 berada di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun. Proyeksi tersebut didukung besarnya kebutuhan refinancing karena surat utang korporasi yang jatuh tempo pada semester kedua 2026 mencapai sekitar Rp107,51 triliun. Di sisi lain, investor kini semakin selektif dan lebih banyak memilih obligasi dengan peringkat kredit tinggi.
Pefindo menilai arah pasar surat utang hingga akhir 2026 akan dipengaruhi perkembangan suku bunga global, kondisi geopolitik, inflasi, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Jika tekanan yield mulai mereda, emiten diperkirakan kembali mempertimbangkan penerbitan obligasi dengan tenor lebih panjang. Namun selama biaya dana masih tinggi, tenor pendek diperkirakan tetap menjadi pilihan utama bagi banyak perusahaan.